SMS membuat aku menjadi penikmat judi bahkan pelaku judi
Banyak tayangan televisi yang menyelenggarakan audisi / lomba / kontes / kuis dengan menggalang dana menggunakan vasilitas sms dengan tarif yang tidak wajar yaitu Rp. 2.000,-/per SMS (padahal sekarang sms bisa gratis), saya atau anda atau anak-anak kita atau cucu-cucu kita atau orang tua kita bahkan kakek nenek kita hampir tiap hari menyaksikan audisi / lomba / kontes / kuis di televisi setiap hari, bahkan banyak yang ikut-ikutan kirim sms. Bahkan ada yang lebih gila UMRAH pun dibuat sebagai hadiah kuis SMS. Apakah kita suka menonton“AFI / Indonesian Idol / KDI”( dulu paling top) ini contoh dan masih banyak program sejenis, bila jawabannya “ya” maka kita termasuk penikmat judi (karena kita melihat tayangan hasil dari judi) dan apabila kita ikut mendukung atau kirim sms kita termasuk pelaku judi, pesertanya pun tanpa disadari juga sebagai pelaku judi. Sedangkan penyelenggaranya adalah Bandar judi. Tahukah anda uang itu kemana, ¼ untuk hadiah, ¼ untuk PH (production house), ¼ untuk stasiun televisi, dan ¼ nya untuk penyedia layanan telepon premium (content provider). Sekarang anda bisa menghitung kalau satu jamnya bisa mencapai 100.000 sms berapa jumlahnya (hitung sendiri yaa… malas ngitung uangnya orang). Lebih edan lagi ada yang kirim sms sampai nominalnya Rp. 2.000.000,- bahkan lebih. Kata-kata ini mungkin tidak asing lagi bagi kita semua “Ayo buruan kirim sms sebanyak-banyaknya, semakin banyak anda kirim sms, semakin besar peluang anda untuk mendapatkan hadiahnya!”, coba bandingkan dengan “sabung ayam” dan “togel” pelakunya masih malu-malu masih sedikit masih sembunyi-sembunyi dan kalau ketangkap anda bisa membayangkan sendiri, mengapa perlakuannya beda padahal sama-sama judi? Dan kita pun dengan tenangnya dengan amannya tanpa malu-malu berlomba-lomba kirim sms dukungan!*** Nah sekarang anda yang melanjutkan tulisan ini, boleh uneg-uneg, pesan, komentar, atau anda lengkapi dengan dalil-dalil, maklum Umara dan Ulama kita sedang Pesta Demokrasi cari posisi empuk, tidak sempat lihat televisi.***

